Tampilkan postingan dengan label Anaku Aksara Biru. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Anaku Aksara Biru. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 November 2019

Andien Aisyah Tak Memaksa Anaknya Ikuti Kemauan Dirinya


Sumber: google.com

Menjadi seorang ibu, Andien Aisyah punya cara tersendiri untuk mengatur pola asuh untuk anaknya, Kawa.

Bahkan menurutnya setiap orangtua pun juga punya aturan sendiri untuk mengasuh anaknya hingga tumbuh dewasa.

"Aku percaya ilmu parenting setiap keluarga beda-beda. Nggak usah dari keluarga lain, di aku pun juga begitu. Misalnya, mamaku, papaku punya ibu yang mengasuh berdasarkan caranya masing-masing," tuturnya di acara launching buku Belahan Jantungku di M Bloc, Jakarta Selatan, Senin (4/11).

Kendati demikian, walaupun banyak masukan yang diberikan, Andien tetap menerapkan pola asuh yang selama ini ia lakukan pada Kawa.

"Papa-mamaku diasuh oleh orang yang beda. Papaku punya ibu dan mamaku ada orangtuanya. Mereka punya masa kecil seperti apa, ya mereka besarkan ke aku. Kemudian aku punya Kawa, jadi menghasilkan pemikiran yang beda-beda juga.Tapi aku selalu berpikir, anak yang kita miliki ini unik," timpalnya.

Lebih lanjut, pelantun 'Moving On' ini mengatakan, selama ini ia bersama suaminya, Ippe, mengajari Kawa berbagai macam hal. Namun, tidak memaksa ia untuk menjadi seperti orangtuanya.

"Yang aku hindari membentuk Kawa seperti kita, seperti aku dan suamiku. Karena anak punya potensi besar yang tidak boleh orangtua lakukan pembatasan," jelasnya.




Sumber: akurat.co

Andien Ekspresikan Permasalahan Kaum Hawa Lewat Buku Barunya

Sumber: insertlive


Melalui bukunya yang berjudul Belahan Jantungku, Andien Aisyah memberikan dan menceritakan persoalan pengalamannya menjadi seorang perempuan dan ibu.

Dalam bukunya, Andien menceritakan pengalamannya dalam mengambil keputusan-keputusan atas dirinya dan anaknya, Anaku Aksara Biru atau akrab disapa Kawa.

Buku ini menjadi sebuah media interaksi Andien untuk berbagi kisahnya dengan lebih lengkap dan mendalam, serta ingin perempuan selalu membuka diri, pikiran, dan menemukan kedamaiannya sendiri.

Seperti halnya yang sedang banyak diperbincangkan yaitu melakukan tindak mommy shaming yang kerap kali dilakukan oleh para tetangga, ibu lainnya, teman dekat, bahkan keluarga.

Menanggapi hal tersebut ada satu bab di buku tersebut membahas tentang perlakuan tidak baik terhadap ibu lainnya.

"Mungkin bukan aku saja yang terjadi pada diriku tapi juga semua perempuan ataupun di media sosial dan real life. Bahkan seorang ibu pun bisa mem-bully anaknnya dan tidak support kayak, 'Kok susunya nggak keluar sih dulu ibu gini gini gini'. Tanpa disadari kita ucapkan bisa menyakiti perasaan orang lain," katanya ditemui AkuratTren di Kawasan Blok M, Jakarta Selatan, Senin, (4/11). 

Kemudian, dari keingintahuan tersebut Andien melakukan riset dengan Najelaa Shibab terkait permasalahan yang kerap dialami perempuan dan ibu.

"Aku bertanya, 'kenapa mereka tidak pernah empati dengan cerita yang diceritakan oleh perempuan ini?'. Maksutnya, setiap orang ada saatnya ingin didengarkan bukannya dikomentari dengan, 'Iya, gue juga waktu dulu begitu' nggak begitu," lanjutnya.

Di sini, Mbak Najelaa memaparkan mengapa perempuan ini tendensinya kompetitif sekali dibandingkan pria. Sehingga, pertemanan sesama wanita itu dibilang cukup rumit dan pasti sering terjadi pertikaian antara keduanya. Hal ini terjadi karena perkataan atau imbuhan yang diucapkan atau kurangnya empati.

Sehingga, tambah Andien, menurut yang pernah ia baca, 70 persen perempuan di seluruh dunia ini kehilangan masa sakralnya sebagai ibu. Karena, terjadi tidak kesupportifan yang dilakukan sesama perempuan, sehingga mereka anxiety-nya besar sekali.

"Makanya, di buku ini aku membahas banyak sekali tentang perempuan. Misalnya, membahas mengapa pertemanan perempuan itu lebih rumit karena harus menjaga perasaan satu sama lain dan itu sangat berbeda dengan pertemanan antar laki-laki," tukasnya.




Sumber: akurat.co