![]() |
| Sumber: insertlive |
Melalui bukunya yang berjudul Belahan Jantungku, Andien Aisyah memberikan dan menceritakan persoalan pengalamannya menjadi seorang
perempuan dan ibu.
Dalam bukunya, Andien menceritakan pengalamannya dalam
mengambil keputusan-keputusan atas dirinya dan anaknya, Anaku Aksara Biru atau
akrab disapa Kawa.
Buku ini menjadi sebuah media interaksi Andien untuk berbagi
kisahnya dengan lebih lengkap dan mendalam, serta ingin perempuan selalu
membuka diri, pikiran, dan menemukan kedamaiannya sendiri.
Seperti halnya yang sedang banyak diperbincangkan yaitu
melakukan tindak mommy shaming yang kerap kali dilakukan oleh para tetangga,
ibu lainnya, teman dekat, bahkan keluarga.
Menanggapi hal tersebut ada satu bab di buku tersebut
membahas tentang perlakuan tidak baik terhadap ibu lainnya.
"Mungkin bukan aku saja yang terjadi pada diriku tapi
juga semua perempuan ataupun di media sosial dan real life. Bahkan seorang ibu
pun bisa mem-bully anaknnya dan tidak support kayak, 'Kok susunya nggak keluar
sih dulu ibu gini gini gini'. Tanpa disadari kita ucapkan bisa menyakiti perasaan
orang lain," katanya ditemui AkuratTren di Kawasan Blok M, Jakarta
Selatan, Senin, (4/11).
Kemudian, dari keingintahuan tersebut Andien melakukan riset
dengan Najelaa Shibab terkait permasalahan yang kerap dialami perempuan dan
ibu.
"Aku bertanya, 'kenapa mereka tidak pernah empati dengan
cerita yang diceritakan oleh perempuan ini?'. Maksutnya, setiap orang ada
saatnya ingin didengarkan bukannya dikomentari dengan, 'Iya, gue juga waktu
dulu begitu' nggak begitu," lanjutnya.
Di sini, Mbak Najelaa memaparkan mengapa perempuan ini
tendensinya kompetitif sekali dibandingkan pria. Sehingga, pertemanan sesama
wanita itu dibilang cukup rumit dan pasti sering terjadi pertikaian antara
keduanya. Hal ini terjadi karena perkataan atau imbuhan yang diucapkan atau
kurangnya empati.
Sehingga, tambah Andien, menurut yang pernah ia baca, 70
persen perempuan di seluruh dunia ini kehilangan masa sakralnya sebagai ibu.
Karena, terjadi tidak kesupportifan yang dilakukan sesama perempuan, sehingga
mereka anxiety-nya besar sekali.
"Makanya, di buku ini aku membahas banyak sekali tentang
perempuan. Misalnya, membahas mengapa pertemanan perempuan itu lebih rumit
karena harus menjaga perasaan satu sama lain dan itu sangat berbeda dengan
pertemanan antar laki-laki," tukasnya.
Sumber: akurat.co

Tidak ada komentar:
Posting Komentar