![]() |
| Sumber: google.com |
Fenomena post-truth muncul dalam peta politik dunia semenjak
satu dekade terakhir, termasuk Indonesia. Menurut kamus Oxford, post-truth
adalah kata sifat yang berkaitan dengan keadaan individu merespons lebih banyak
menggunakan perasaan dan keyakinan daripada fakta.
Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Laksana Tri
Handoko mengatakan fenomena post-truth tidak akan mungkin terjadi tanpa adanya
teknologi yang mendukung proses komunikasi politik.
"Pola ini terjadi sepanjang sejarah bangsa kita. Pada
masa perjuangan kemerdekaan, teknologi percetakan, sistem pengiriman jasa pos,
telegraf, audio, dan radio elektronika mendukung proses komunikasi politik
sehingga melahirkan identitas kebangsaan,” ujarnya melansir laman resmi LIPI,
Kamis (31/10/2019).
Menurut Handoko, peta politik dan gaya komunikasi yang
digunakan berubah dari proses satu arah menjadi cara komunikasi yang
interaktif. Dirinya menjelaskan, imbas dari teknologi yang memungkinkan proses
interaktif adalah munculnya post-truth sebagai cara komunikasi politik yang
fenomenanya mendunia.
"Fenomena tersebut pun muncul di Indonesia dengan
berbagai media komunikasi sehingga memunculkan istilah Hoax, Bot, dan Cyber
Army yang kita kenal saat ini," tandas Handoko.
Sumber: akurat.co
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1263711/original/064120900_1465887042-20160614-Logo_Lipi_2.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar